tulisan berjalan

sukses dengan product kami MATTHEW JAYA BADMINTON SCHOOL di tahun 2010 - 2014 kini kami memperkenalkan product kami yang terbaru yakni RACKET BADMINTON INDONESIA yang memiliki 4 program didalamnya yakni RB club , RB School , RB Academy dan RB Community

Kamis, Maret 26, 2015

PBSI Terbitkan Buku Parameter Fisik Panduan Pilih Pemain

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Buku Standarisasi Parameter Fisik yang diluncurkan Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) bertujuan menginformasikan kepada sejumlah klub bulu tangkis untuk menyeleksi pebulu tangkis yang benar-benar memenuhi syarat dari kriteria kesehatan fisik.
“Sekarang PBSI memiliki buku yang berisi kriteria parameter fisik dan akan disebarkan ke klub-klub. Pada dasarnya, kami (PBSI) mencoba meningkatkan standard klub, jadi saat menerima atlet, kami tinggal memoles saja,” kata Sekretaris Jenderal PP PBSI, Anton Subowo di acara konferensi pers di Pelatnas PP PBSI Cipayung, Jakarta Timur, Senin (8/12).
Buku Standarisasi Parameter Fisik ini kata Anton, berisi kriteria fisik atlet masuk pelatnas, disusun secara sistematis sehingga kini ada satu patokan dan metode baku terkait dengan standard fisik atlet yang akan menjadi penghuni pelatnas.
“PBSI bisa menerima atlet masuk pelatnas juga ada dasarnya. Semua pebulu tangkis selama bisa memenuhi standard parameter fisik dan tentunya punya skill, bisa masuk ke pelatnas,” kata Anton.
Dalam buku ini terdapat sejumlah kriteria parameter fisik diantaranya pembobotan parameter fisik yang terdiri dari Endurance (40%), Coordination (15%), Power (10%),Strength Endurance (15%), Core Stability (10%) dan Push Up (10%).
Fisik menjadi salah satu aspek penting bagi seorang atlet bulutangkis. Tak heran jika dalam ajang Junior Master, sebuah kejuaraan yang bertujuan menginventarisasasi atlet-atlet muda berpotensi, aspek fisik memiliki bobot sebesar 30% dari total penilaian seorang atlet. Dimana teknik memiliki porsi 50% serta penilaian panelis sebesar 20%. (badmintonindonesia.org)
Editor : Eben Ezer Siadari

motivasi kunci utama bangkit

Motivasi Kunci Utama Bangkit!




Melihat kiprah pelatih China, Tong Shinfu ketika mendampingi Lin Dan pada Putaran Final Piala Thomas 2010 di Kuala Lumpur lalu, saya teringat kejadian tahun 1997. Ketika itu, tim Indonesia akan berangkat mengikuti Kejuaraan Dunia di Glasgow.

Sehari sebelum tim berangkat, mereka datang berombongan ke kantor saya, di kawasan Roxy, Jakarta Pusat, untuk sharing motivasi. Beberapa yang datang di antaranya Candra Wijaya, Sigit Budiarto, Hariyanto Arbi, Indra Wijaya, Agus Dwi Santoso (sekarang pelatih tunggal putra Indonesia), yang didampingi Ketua Bidang Pembinaan PB PBSI, Hadi Nasri, serta pelatih Tong Sinfu.

Lewat berjuang sangat keras, Candra/Sigit menjadi juara dunia. Kala itu, Tong secara khusus mengucapkan terima kasih kepada saya atas sharing yang diberikan. Saya sedikit terkejut karena apa yang saya sampaikan hanyalah sebuah motivasi kecil. Namun ia menjawab, justru sharing motivasi kecil itulah inti yang sangat penting yang kemudian diolah oleh Tong dan dibagi guna memotivasi para pemain. Bagi saya, Tong adalah seorangpelatih sukses yang rendah hati dan bersahaja.

Sejak saat itu, saya jadi sering terlibat dalam dunia perbulutangkisan Indonesia.Kebetulan, secara khusus saya juga mendampingi Hendrawan, yang nyaris terpuruk akan dikeluarkan dari Pelatnas Cipayung. Di tahun 2000, saya ditunjuk menjadi motivator resmi Tim Piala Thomas Indonesia saat akan bertanding di Kuala Lumpur. Sebelum berangkat, demi menggelorakan "the winning spirit", saya mengadakan seminar dengan tema "Dare to Succeed."

Berbekal semangat tim yang luar biasa, Indonesia masuk final Piala Thomas menghadapi China. Tampil sebagai pemain pertama adalah Hendrawan menghadapi Xia Xuanze, sanng juara All England 2000. Kubu Indonesia saat itu begitu tegang karena Hendrawan sedang cedera. Padahal sebagai pemain pertama, ia dianggap sebagai kunci penentu kemenangan karena bila menang, pasti akan mengangkat moral tim secara keseluruhan.

Dengan motivasi yang tinggi, Hendrawan bisa membuktikan kematangan sebagai pemain. Ia sempat kalah di gim pertama, tapi menang di dua gim berikutnya yang membuat Indonesia unggul 1-0. Ganda Tony Gunawan/Rexy Mainaky melengkapi kemenangan atas Yu Jinhao/Chen Qiqiu. Kemenangan tersebut makin memotivasi Taufik Hiadayat sehingga mampu membabat Ji Xinpeng, yang membuat Indonesia mempertahankan Piala Thomas untuk keempat kali berturut-turut sejak merebutnya tahun 1994.

Motivasi Kuncinya

Saya meyakini100 persen bahwa motivasi adalah kunci utama sukses di semua bidang kehidupan, termasuk bulu tangkis. Ada dua unsur penting dalam motivasi. Dilihat dari pembentukan kata, motivation berasal dari kata motive dan action. Mempunyai motif (motive) atau tujuan (action) berarti bertindak. Menggabungkan keduanya ketika kita bertindak untuk mengejar tujuan tertentu akan menghasilkan kekuatan yang luar biasa.

Karena itu, motivasi itu bukan sekadar berteriak, "Sukses! Sukses!" Motivasi adalah sebuah ilmu sukses dan di dalam dunia bulu tangkis, kekuatan itu terletak pada lima unsur, yaitu teknik, fisik, mental, intelektual, dan karakter. Bila kelimanya dilebur dengan motivasi yang luar biasa, maka tentu akan memunculkan kekuatan yang berlipat ganda.

Dengan kesadaran akan tujuan menjadi seorang atlet, bahkan jatah berlatih dari sang mentor akan terus ditingkatkan dengan sendirinya. Semangat inilah yang akan jadi kekuatan penentu yang membuat seseorang mampu memiliki nilai lebih sehingga mampu mendobrak batas.

Ini bisa kita lihat dari legenda bulu tangkis Rudy Hartono dan Susi Susanti. Meski tak didampingi motivator, karena motivasi sudah mendarah daging dan menyatu dalam jiwa, dalam setiap pertandingan mereka selalu mampu menunjukkan performa, apapun kondisinya. Keuletan dan semangat pantang menyerah tergambar jelas dari setiap pertandingan yang dijalani. Itulah yang disebut motivasi. Motivasi dapat dilogikakan secara ilmiah, bisa dilatih dan dibentuk.

Untuk mencapai kesuksesan maksimal, di samping mampu membina motivasi tinggi, tentu juga dapat membutuhkan dukungan lain. Salah satunya, peran pemerintah sebagai pengayom sebagai payung utama yang harusnya jadi titik sentral pengembangan secara keseluruhan. Mulai dari membina pemain dengan mengasah mereka melalui berbagai kejuaraan, meningkatkan sarana dan pra-sarana latihan, hingga memberikan jaminan masa depan yang baik bagi para pemain. Untuk itu, pasti dibutuhkan anggaran sangat besar guna menyokong semuanya. Namun hal itu sangat wajar mengingat bulu tangkis telah terbukti berperan besar dalam mengharumkan nama bangsa.

Saya yakin jika PB PBSI mampu membangun kembali motivasi sampai masuk ke sanubari seluruh pemain beserta jajarannya, maka tidak mustahil pada kejuaraan mendatang Piala Thomas dan Uber akan mampu kita bawa pulang kembali ke Indonesia. Dan mengembalikan citra Indonesia sebagai raja bulu tangkis dunia.

Salam sukses, luar biasa!

____________

Tulisan ini telah dimuat di Tabloid BOLA yang terbit pada Kamis, 27 Mei 2010 

Rabu, Maret 25, 2015

komunitas bulutangkis indonesia

Hendra Kartanegara atau Tan Joe Hok | Kabarinews
Hendra Kartanegara atau Tan Joe Hok | Kabarinews
Komunitas Bulu Tangkis Indonesia (KBI) meminta Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) membuat cetak biru untuk pembinaan atlet dan pengembangan prestasi dari cabang olah raga itu.
“Kami menilai selama ini PB PBSI belum membuat cetak biru yang digunakan dalam hal pembinaan atlet ataupun pengkaderan terhadap pebulu tangkis yang akan bertanding di berbagai kejuaraan,” kata Ketua KBI, Hendra Kartanegara, di Gedung Bulu Tangkis, Asia Afrika, Senayan, Jakarta.
Ia menjelaskan cetak biru dalam induk olah raga itu penting sehingga dapat dilakukan pengkaderan untuk tetap mempertahankan prestasi.
“Seharusnya PP PBSI juga melakukan pemetaan terhadap jumlah atlet yang ada saat ini dan mempersiapkan yang lainnya jika sewaktu-waktu atlet itu cidera atau berhalangan,” kata Hendra yang juga memiliki nama Tan Joe Hok.
Menurut dia, sebelum ajang kejuaraan seperti Thomas Cup, All England dan Olimpiade dan berbagai turnamen lainnya, PP PBSI telah mengantongi pemain yang akan diturunkan di pertandingan tersebut.
“Artinya, untuk meraih prestasi itu perlu persiapan sedini mungkin sebelum pertandingan,” kata legendaris bulu tangkis Indonesia itu.
Karena itu, ia menyarankan agar pengurus cabang olahraga itu dapat melakukan regenerasi terhadap atlet di berbagai nomor pertandingan.
“Bulu Tangkis Indonesia dikenal oleh dunia akan prestasinya, karena itu lakukan pembinaan dan regenerasi atlet,” harap pria yang mencatat sejarah sebagai peraih juara turnamen All England pada tahun 1959 di London.
Hendra juga menyarankan agar pengurus juga dapat melakukan evaluasi terhadap prestasi yang diraih atlet sehingga dapat dilakukan perbaikan di masa mendatang.
Ia juga berpesan kepada atlet bahwa prestasi yang pernah diraihnya itu bersama rekan-rekan saat menjadi pebulu tangkis merupakan buah dari kegigihan, usaha, doa dan mimpi untuk menjadi pemenang tingkat dunia.
Sumber : Republika

apa kata legenda olimpiade

Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma | Olahraga.plasa.msn
Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma 
Peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992, Alan Budi Kusuma berharap Menpora dalam kabinet baru adalah orang yang mengerti pentingnya pembinaan dan perhatian pada perkembangan olah raga Indonesia.
Menurut Alan yang kini menjalani bisnis peralatan olah raga bersama isterinya, Susy Susanti, pembinaan pemerintah diperlukan agar arah olah raga nasional menjadi lebih jelas dengan target-targetnya.  Ia menunjuk, yang paling mudah dan di depan mata adalah target menjadi penyelenggara Asian Games 2018 yang sukses. “Kita maunya kan sukes di sektor penyelenggaraan dengan adanya fasilitas-fasilitas olah raga yang lengkap dan modern serta  tentunya prestasi atlet dalam peringkat perolehan  medali,”kata Alan.
Menurut Alan, proyek seperti Hambalang sebenarnya secara gagasan sudah baik, karena ada usaha pembinaan secara terpadu. “Sayangnya memang terhambat hal-hal di luar teknis,” kata  Alan. “Pembinaan itu berkaitan dengan program dan pendanaan. Program yang bagus akan berjalan bila tersedianya dana. Tanpa itu, program akan tersendat bahkan berhenti,”lanjut Alan.
“Kita ini sudah sangat tertinggal dibandingkan  negara-negara Asia Tenggara seperti Vietnam dan Thailand. Nggak usah dibadingkan dengan China (Tiongkok) lah, terlalu  jauh,” lanjutnya.
Membina atlet menurut Alan tidak bisa dilakukan dalam 1-2 tahun, kemudian kita berharap hasilnya.  “Tunggal puteri Ratchanok Intanon disiapkan oleh Thailand dalam program delapan tahun.   Ia disiapkan target berdasar tahapan usianya. Puncaknya,  di tahun kedelapan pada 2016 mendatang, ia harus meraih medali emas Olimpiade Rio de Janeiro. Itu sudah harga mati,” katanya.
Namun menurut Alan, hal ini dapat berjalan apabila komitmen dari pemerintah dipegang dengan kuat. “Pemerintah memikirkan bagaimana atlet tersebut merayapi karirnya hingga mencapai target puncak dan kemudian menyiapkan jaminan  buat diri mereka saat memasuki tahapan menurun dan pensiun,” lanjut Alan.
Perhatian tersebut dapat juga berupa lapangan pekerjaan buat atlet. Tentunya sesuai dengan kemampuannya. “Saat kita menjadi atlet nasional, kita tidak berpikir soal apa imbalan dari pemerintah. Kita hanya berpikir bagaimana berprestasi setinggi mungkin, dengan tujuan akhir adalah menaikkan merah putih di ajang internasional,” katanya.
“Biasanya atlet telah mengorbvankan masa-masa emasnya, termasuk kesempatan mereka untuk bersekolah.  Kekahawatiran masa depan pun baru mulai dipikirkan saat  telah mendekati pensiun,” lanjutnya.
Karena itulah Alan menyambut baik gagasan untuk memberi pensiun atau uang hari tua kepada para mantan atlet yang pernah memberi jasa kepada negara di ajang SEA Games,  Asian Games dan Olimpiade.  “Saya setuju sekali. Ini kan seperti pengakuan bahwa olah raga merupakan satu  bidang atau lapangan kerja dan ajang pengabdian kepada negara. Sama seperti menjadi pegawai pemerintahan atau pun  di militer,” lanjut Alan.
Alan berharap figur menteri pemuda dan oalh raga (Menpora) yang baru di era Persiden Jokowi adalah orang yang memang ingin olah raga Indonesia maju. “Kalau dia bekas olah ragawan atau datang dari kalangan yang punya pengalaman dengan olah raga tentu lebih baik,”ungkapnya.
Alan yang mengundurkan diri pada awal 2000-an mengaku kalangan bulu tangkis Indonesia merasa iri dnegan perlakukan istimewa yang diterima   atlet bulu tangkis Malaysia, Lee Chong Wei. “Lee  Chong Wei belum pernah menjadi juara dunia atau memberi medali emas Olimpiade buat negaranya. Namun pemerintah Malaysia telah memberi jaminan pensiun seumur hidup buatnya.  Di Indonesia, ada 9 orang yang telah memberi medali emas Olimpiade buat negeri ini, namun penghargaan yang diterima masih  berbeda.”
Kesembilan peraih medali emas Olimpiade smeua berasal dari cabang bulu tangkis, yaitu Alan Budi Kusuma, Susy Sunati (1992), Rexy Mainaky-Ricky Subagdja (1996), Candra Wijaya/Tony Gunawan (2000),  Taufik Hidayat (2004) dan Markis KIdo/Hendra Setiawan (2008).
Menurut Alan, jaminan masa depan atlet merupakan kunci  untuk mendapatkan  resources atlet yang baik untuk masa depan. “Ketika orang tua sadar bahwa anaknya memiliki jaminan masa depan atau hari tua setelah berprestasi baik, maka akan banyak orang tua yang akan membawa anaknya untuk menjadi atlet.”
Sumber : Kompas.com

Selasa, Maret 24, 2015

team junior racket academy dalam tahap persiapan

team junior racket academy dalam tahap persiapan

Coach aldo yang dipercaya melatih team putra dan putri junior racket badminton academy sedang mempersiapkan teamnya untuk menghadapi turnamen one vision cup yang akan diselenggarakan di cometa arena bulan mei mendatang.

Tahap persiapan pun dimulai dari fisik serta mental mereka dalam program latihan setiap minggunya , binpres team racket yohanes upi mengatakan saya telah memberikan kepercayaan penuh kepada aldo dan asistantnya louis.

Louis memang pendatang baru di team coach kami tapi saya yakin dia mampu membantu aldo dalam memberikan pelatihan kepada team junior academy kami.